Pages

Showing posts with label Pulau. Show all posts
Showing posts with label Pulau. Show all posts

Monday, November 21, 2011

IKATAN SAUDARA ISLAM MELAYU SELAMATKAN NEGARA

Peristiwa Ambalat. Peristiwa ini tidak dihebohkan di Malaysia atas sebab-sebab keselamatan. Kerajaan Malaysia telah bersedia dari awal untuk menamatkan perebutan kawasan ini di meja rundingan. Tetapi lain permainannya di kacamata media Indon.

Sengeketa ini dihangatkan. Perasaan benci rakyat Indon kepada Malaysia semakin meluap-luap. Sentimen kedaulatan tanah air dibakar didalam diri setiap rakyat Indon yang bermajoriti besar adalah penganut agama Islam.

Apakah permainan mereka ini? Membakar semangat kedaulatan tanah air melebihi ikatan saudara sesama Islam.

Perasaan ini yang telah dimanipulasikan oleh CIA, M16 dan MOSSAD untuk mengawal pemikiran dan tindakkan pemimpin negara-negara di Asia Tenggara ini. Agen-agen jahat mereka bergerak melalui NGO-NGO, pembantu-pembantu pemimpin negara dan syarikat-syarikat yang ditubuhkan untuk membiayai propaganda jahat mereka.

Oh,Tanahair ku..mampukah kau bertahan...

Sengketa Ambalat di Mata Media Indonesia.

Ingat Peristiwa Ambalat tahun 2005? Untuk kali pertama dalam sejarah Indonesia yang damai, seorang kepala negara turun dan memastikan persiapan pertahanan pasukan di garis depan.

Itu menunjukkan, pemerintah Indonesia telah habis kesabaran, dan secara sungguh-sungguh menganggap klaim sepihak Malaysia atas Ambalat sebagai tantangan perang. Situasi kala itu lebih panas ketimbang ketegangan sekarang.

Saat itu, lagu patriotik “Maju Tak Gentar” umpamanya, diperdengarkan di Metro TV berulang-ulang, mengiringi tayangan gambar parade kekuatan angkatan darat, laut, dan udara, mengikuti siaran berita perkembangan terkini konflik. Metro TV juga berkali-kali mempertunjukkan pembakaran bendera Malaysia di beberapa daerah serta orasi marah pengunjuk rasa di depan kedutaan besar negeri jiran itu.

Isu Ambalat menjadi sorotan media massa setelah Petronas menyerahkan konsesi pertambangan di perairan itu kepada perusahaan minyak gabungan Inggris-Belanda Shell. Nota protes Departemen Luar Negeri kepada Malaysia diabaikan, bahkan Perdana Meteri Ahmad Badawi mengklaim bahwa Ambalat adalah wilayah sah Malaysia sesuai peta nasional yang dibuat negara itu pada tahun 1979. Meskipun begitu, peta itu takpernah diakui negara-negara tetangga serantau.

Dalam pertimbangan jurnalistik, sengketa Ambalat memenuhi syarat sebagai berita bernilai tinggi: agresi, kedaulatan wilayah, harga diri bangsa. Kata-kata kunci itu mampu memanaskan kepala orang Indonesia dan menimbulkan situasi ketidakpastian politis serta ketidakseimbangan psikologis.

Maka, jadilah isu Ambalat kepala berita di media cetak dan tayangan kabar unggulan di televisi untuk beberapa hari dan terus disorot sampai dua pekan.

Media Indonesia: Perlu Garis Keras terhadap Musuh

Pada tanggal 4 Maret 2005, misalnya, Media Indonesia memampang foto pada halaman pertama tentang sebuah kapal perang Tentara Nasional Indonesia dan sebuah pesawat pengintai yang berpatroli di perairan Ambalat, Laut Sulawesi. Di bawahnya terdapat kotak yang berjudul “Presiden Perintahkan TNI Jaga Ambalat” yang diselipkan gambar berwarna peta Kalimantan, wilayah Ambalat, dan posisi kapal-kapal perang kedua negara.

Di dalam kotak itu juga terdapat informasi mengenai kronologi ketegangan dan insiden yang sempat terjadi sebelumnya. Pada rubrik Polkam halaman 9 Media Indonesia juga mengangkat berita tentang penolakan Kedutaan Besar Malaysia atas permintaan beberapa anggota Dewan Perwakiklan Rakyat beraudiensi dengan mereka.

Berita kenaikan tarif angkutan sebagai dampak kenaikan bahan bakar minyak (BBM) diletakkan sebagai kepala berita pada tanggal 5, sedangkan berita foto memperlihatkan Megawati Soekarnoputri bersalaman dengan menteri reunifikasi Korea Selatan.

Akan tetapi, tajuk rencana berjudul “Perlu Garis Keras di Blok Ambalat” memperlihatkan bahwa jajaran redaksi memandang isu ini sangat penting.” Media Indonesia mengkhawatirkan sikap presiden masih terlalu lembek untuk menghadapi “negara yang sedang dirasuk kerakusan.”

Bagi Media Indoensia, Malaysia “bisa berwajah manis, tapi berkelakuan sebaliknya.” Hubungan kedua negara serumpun ini, tulis tajuk ini, “harus dilihat dan diperlakukan secara rasional dan mengubur romantisme sesama puak Melayu.” Dalam hal kedaulatan negara, tulis tajuk ini lagi, “TNI tak usah ragu-ragu menghajarnya agar Malaysia tidak bertindak semaunya di Ambalat.”

Masih pada halaman muka, Media Indonesia juga memunculkan kotak berjudul “Lima Puluh Persen Kapal Perang TNI AL Siap Dikerahkan ke Perbatasan.” Harian ini juga meberikan tabel perbandingan kekuatan angkatan laut kedua negara, seolah perang benar-benar sudah di ambang pintu.

Media Indonesia jelas memperlihatkan sikap oposisi terhadap Malaysia secara keras dan terang-terangan menempatkan Malaysia dalam konflik Ambalat ini sebagai ‘musuh.’

Pada tanggal 6, misalnya, harian ini mengangkat kepala berita “KRI Rencong Usir Kapal AL Malaysia.” Harian ini bahkan menurunkan tajuk lagi berjudul “Mari Sombong kepada Malaysia.” Perlakuan buruk Malaysia terhadap Indonesia tidak sepadan dengan kontribusi ratusan ribu tenaga kerja Indonesia terhadap perekonomian negara itu sehingga, dalam pandangan harian ini, “Seharusnya mendorong pemerintah Indonesia tidak bermuka manis dengan tetangga bernama Malaysia.”

Bahkan pada tanggal 8, harian ini memampang foto presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang dengan mimik tegas menaiki tangga kapal perang di Pelabuhan Maludung, Tarakan, Kaliman Timur sambil melambaikan tangan. Foto itu memenuhi hampir sepertiga halaman dengan ambilan gambar mulai kepala sampai ke lutut dengan latar belakang kapal perang KRI Karel Satsui Tubun.

Kepala berita ‘Ambalat Siaga Tempur, Badawi Telepon SBY’ dengan huruf ukuran besar tercetak di bagian atas foto itu. Dengan analisis semiotika, bisa ditafsirkan bahwa redaksi sengaja memilih foto ini dan memasang di halaman depan untuk membangkitkan semangat patriotik dan kebanggaan nasional para pembaca bahwa “Indonesia siap menghadapi Malaysia untuk mempertahankan Ambalat.”

Begitu pula pada tanggal 9, harian ini memasang kepala berita “SBY Tinjau Kesiapan Tempur TNI” dengan foto presiden memastikan kesiapan prajurit marinir di perbatasan Indonesia-Malaysia di Pulau Sebatik. Salah satu subjudulnya ditulis “Ketegangan Meningkat.”

Kompas: Malaysia Melecehkan Kita, Harus Ditindak Tegas

Sikap oposisi terhadap Malaysia juga ditunjukkan oleh Kompas. Lebih lunak, lebih rasional, tapi tetap tajam. Pada tanggal 6, misalnya Kompas mengangkat kepala berita “Kapal RI-Malaysia Berhadap-hadapan” (bandingkan dengan Media Indonesia yang pada hari yang sama memuat judul “KRI Rencong Usir Kapal Malaysia”).

Begitu juga, pada tanggal 7, kepala barita harian ini berjudul “Malaysia Kembali Lakukan Provokasi.” Berbeda dengan Media Indonesia yang pada tanggal 8 melaporkan berita utama yang menggambarkan ketegangan tinggi, kepala berita Kompas pada hari yang sama diberi judul “Presiden Tinjau Perbatasan RI-Malaysia.”

Namun begitu, tajuk rencana hari itu yang berjudul “Bagaimana Mungkin Malaysia Pun Melecehkan Kita?” sesungguhnya memperlihatkan kegusaran harian ini terhadap negeri jiran itu. Menurut Kompas, banyak perilaku Malaysia yang menyakitkan hati, “tapi dengan semangat tahu diri, kita menerimanya.” Kompas menulis bahwa tanggapan atas pelanggaran wilayah Indonesia masuk akal jika “harus lebih tegas dan jelas” (bandingkan dengan tajuk Media Indonesia yang menulis “perlu garis keras di blok Ambalat”).

Pada tanggal 9 dan 10 Kompas juga menurunkan kepala berita “Ketegangan di Daerah Perbatasan Mereda” dan “RI-Malaysia Sepakati Penyelesaian Damai” dengan foto pasukan marinir berjaga-jaga di tugu perbatasan Indonesia Malaysia.di Sebatik.

Ini menunjukkan meskipun mengharapkan pemerintah “bertindak tegas,” Kompas berhaluan lebih moderat, rasional ketimbang Media Indonesia.

Kompas, misalnya mengajukan argumen kepemilikan Indonesia atas Ambalat dengan menurunkan berita opini berjudul “Ambalat Lanjutan Alamiah Kaltim” yang mengutip pandangan pakar hukum laut internasional, Hasyim Djalal.

Republika: Selesaikan dengan Semangat Sesama Muslim-Melayu

Republika juga mengangkat persengketaan perbatasan dengan Malaysia, tapi dengan hati-hati dan sama sekali tidak memperlihatkan kegusaran, atau bahkan kemarahan. Pada tanggal 3 Maret, misalnya, harian ini menurunkan berita, “RI Kirim Kapal Perang ke Perbatasan Malaysia.” Berita pengiriman kapal perang ini tidak diangkat sebagai kepala berita, tapi diletakkan di bawah, meskipun di halaman muka.

Pada tanggal 5, berita tentang konflik perbatasan ini hanya dimunculkan dalam foto kecil di halaman muka. Tiada berita sejenis pada halaman dalam.

Harian ini sempat menurunkan kepala berita “Kapal Perang RI-Malaysia ‘Adu Mulut’” pada tanggal 6 yang yang mengabarkan ketegangan di perbatasan. Tapi pada tanggal 7 harian ini menurunkan kepala berita yang mendinginkan suasana, “RI-Malaysia Siap Redakan Ketegangan,” sedangkan pada tanggal 9, Republika menurunkan kepala berita “TNI AL Kurangi Kapal di Ambalat.” Kemudian pada tanggal 10, “RI-Malaysia Sepakat Merujuk UNCLOS.”

Sikap hati-hati Republika ini terbaca pada tajuknya tanggal 7 “Tahan Emosi.” Republika mengaku ada persoalan dalam perbatasan Malaysia-Indonesia yang bermula pada kasus Sipadan-Ligitan ketika Malaysia melanggar kesepakatan status quo dengan Indonesia.

Republika menulis bahwa “kita harus mempertahankan setiap jengkal tanah kita,” tapi mengingat persaudaraan kedua negara, penyelesaian semestinya ditempuh “dengan cara-cara bijak, bukan kekuatan bersenjata-apalagi melibatkan emosi massa.” Republika berpendapat, “ada kekuatan yang ingin kedua negara berhadap-hadapan,” tapi “semangat Melayu semestinya mengikat kedua negara.”

Pada halaman muka, dalam berita yang kecil berjudul “Selesaikan Secara Bilateral” Republika mengutip pernyataan Din Syamsuddin agar persoalan ini diselesaikan secara bilateral. Berita ini mengutip pernyataan Din bahwa bila sengketa Ambalat diselesaikan dengan konflik terbuka, kedua belah pihak akan rugi, yang beruntung pihak ketiga. Selain itu, ia “akan merugikan Islam.”

Sudut pandang sejenis juga diperlihatkan dalam berita “MUI Akan Kirim Tim ke Malaysia” pada tanggal 9. Selain itu, pada tanggal 12 Republika juga menurunkan berita pada halaman muka yang mengutip pernyataan Menteri Luar Negeri Malaysia, Syed Hamid Albar, “Patroli di Perbatasan Tak Berarti Perang.”

* * *

Terlihat bahwa terdapat perbedaan pola, atau bingkai pemberitaan pada Media Indonesia, Kompas, dan Republika. Jika ketiga surat kabar ini diletakkan, boleh dibilang Media Indonesia berada pada garis keras: mengangkat sengketa Ambalat dengan emosional. Kompas, garis moderat, memahami jika tindakan tegas diambil pemerintah, sedangkan Republika, garis lunak, menginginkan konflik bersenjata dihindari demi persaudaraan Muslim dan serumpun. Namun, secara umum, ketiga surat kabar itu menyatakan keberpihakan kepada posisi Indonesia.

Fenomena ini menarik jika dikaitkan dengan pendapat Andreas Harsono bahwa ketika bekerja, wartawan harus melepaskan segala macam identitas primordial, misalnya kewarganegaraan.

Kewarganegaraan, kata Andreas, hanyalah untuk “keperluan praktis pribadi atau memperkaya pemahaman” dan takkan “mendikte liputan.” Akan tetapi, kenyataannya wartawan mau tidak mau berhadap-hadapan struktur komunitas yang mempengaruhi dirinya semenjak lahir dan tumbuh. Salah satunya perasaan kebangsaan ini meskipun mungkin ia tak menyadarinya.

Selain perkara itu, wartawan juga bersentuhan dengan kebijakan editorial, ataupun kredo, nilai, serta norma perusahaan tempat ia bekerja. Kepala-kepala berita surat kabar kita yang mengobarkan sentimen kebangsaan dalam sengketa Ambalat bisa jadi merupakan kebijakan perusahaan guna meraih kesempatan memperbesar tiras dan memperluas pasar. Namun, bisa juga ia dilihat dari sisi ideologis.

Media Indonesia, umpamanya, seringkali diposisikan sebagai surat kabar yang pragmatis. Akan tetapi, fakta bahwa ia dimiliki oleh Surya Paloh, seorang pengusaha asal Aceh, kader partai Golongan Karya, sekaligus seorang nasionalis, dalam banyak hal mempengaruhi kebijakan editorial. Begitu juga Jakob Oetama, seorang Jawa-Katolik-Tionghoa, membangun Kompas dengan menanamkan nilai-nilai Jawa, rasionalitas, dan kemoderatan.

Adapun Republika didirikan oleh kelompok intelektual Muslim, ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia), yang merupakan kekuatan sosial-politik kelas menengah Muslim di Indonesia, yang mengidentifikasikan diri sebagai bagian kebangkitan komunitas Islam global.

Dengan kata lain, obyektivitas jurnalistik idealisme yang hendaknya dituju oleh pekerja media, tapi memang pada praktiknya ia bisa absurd lantaran banyak faktor yang melencengkannya. Atau mungkin, untuk kasus Ambalat, memang tidak perlu?

Kredit: Junarto.Wordpress

Tuesday, August 9, 2011

Waktu kemunculan Dajjal semakin hampir

Teori konspirasi antarabangsa menyatakan bahawa Putera William adalah bakal Raja yang memerintah dunia. Seorang raja Anti-Christ yang menyembah iblis. Beliau tidak menyembah Jesus seperti pengikut-pengikut agama Vatican yang lain yang diterajui oleh Pope Benedict XVI.



Fakta ini telah dinyatakan secara meluas didalam laman-laman teori konspirasi.



Teori pengaruh illuminati keatas dua manusia ini yang boleh ku fikirkan ketika ini ialah perkaitan "Coat of Arms" Putera William dan Pope Benedict XVI.



Satu persamaan yang amat ketara ialah kerang (Scallop@Shell).









Sebutir kerang merah berada di tengah perisai dan leher singa dan unicorn.







Perhatikan sebutir kerang berada ditengah-tengah Coat of Arms milik Pope Benedict XVI.



Kemungkinan mereka-mereka ini sedang menanti kedatangan dajjal pada tahun 2013.



Cuba perhatikan Coat of Arms kepunyaan Putera William (PW) dan Pope...seperti menceritakan sesuatu..



1. Al-Jassasah



PW-----> Singa

Pope---->Beruang pembawa berita



2. Lautan



PW-----> Pulau dan Kerang

Pope---->Kerang





3. Dajjal



PW-----> RajaUnicorn dirantai

Pope---->Raja Nuawbian (Black Israelite)



Lebih menarik lagi kalau di google pasal kaum Nuawbian..konon nya dari keturunan Firaun...hahahaa



Saturday, June 27, 2009

Azmin: Jean Todt Dibayar RM900,000, Diberi Tanah Di Terengganu

Kementerian Pelancongan hari ini enggan menjelaskan kepada Parlimen kenapa Jean Todt iaitu tunang pelakon terkenal Michelle Yeoh diberikan kontrak lumayan RM900,000.

Naib Presiden PKR Azmin Ali berkata alasan bahawa bayaran itu untuk khidmat Todt menarik rakyat asing menetap di sini di bawah kempen “Malaysia- rumah kedua ku” tidak masuk akal.

Ini kerana misi itu dilaksanakan sepenuhnya oleh wakil pejabat Pelancongan Malaysia di seluruh dunia, tambah beliau.

Selain menerima hampir sejuta ringgit setahun, Todt turut ditawarkan tanah di Pulau Besar Terengganu, kata Azmin .

Azmin mendesak kerajaan mendedahkan butir-butir perjanjian Kementerian Pelancongan dan Todt supaya rakyat mengetahui bagaimana RM900,000 dibelanjakan.

Menteri Pelancongan Datuk Ng Yen Yen melantik Jean Todt sebagai ‘duta’ Pelancongan Malaysia untuk tempoh setahun dalam usaha kerajaan menarik 2,000 pelancong menetap di negara ini.

Azmin menampilkan dokumen yang menunjukkan yuran perkhidmatan Jean Todt sahaja mencecah RM593,400. Kos itu termasuk wang untuk tambang perjalanan, perbelanjaan dan wang saku.

Selain itu Umno-BN turut membayar Todt RM388,000 untuk bercuti di dalam negara, kata Azmin.

“Mengapa sejumlah RM593,000 dibayar kepada Jean Todt untuk membuat promosi ini,” tanya Azmin.

“Kalau kita tengok pecahan yang saya dapat, kos untuk tambang kapal terbang dari Eropah ke Kuala Lumpur ke Eropah mencecah RM180,000 ringgit. Ini tidak termasuk kos penginapan yang mencecah RM80,000 untuk tiga malam,” tambah Azmin

Timbalan Menteri Pelancongan Datuk Seri Sulaiman Abdul Rahman Taib bagaimana pun enggan menjawab pertanyaan Azmin.

Azmin berkata beliau mempunyai maklumat terperinci mengenai pemborosan yang berlaku tetapi mahu memberi peluang kepada UMNO-BN menjelaskan perbelanjaan sebegitu besar.

“ Saya mahukan kerajaan memberi jawapan dengan tepat. Saya harap kementerian dapat beri jawapan secepat mungkin kerana ini sesuatu yang mudah dan mereka boleh menjelaskan dengan segera,” kata beliau.

Thursday, August 14, 2008

Taiwan menuntut hak keatas Pulau Spratly


“Pulau Layang-Layang belongs to the Republic of China (Taiwan’s formal title), either from the point of view of history, or geography or international law. We hope claimants of Spatlys islands put aside sovereignty disputes and jointly develop resources (near the islands),” the Taiwanese Foreign Ministry said in a statement." - Susan Loone Blog

Kelemahan pentadbiran Dollah Badawi telah menyebabkan ramai pihak telah mengambil kesempatan untuk merampas hak kedaulatan negara kita. Bermula dengan kehilangan Pulau Batu Putih kepada Singapura. Apakah mereka akan berhenti setakat itu atau Pulau Pisang juga menjadi idaman mereka selepas ini?

Dan yang terbaru, Pulau Spratly menjadi sasaran. Mampukah kerajaan BN mempertahankannya dari jatuh ketangan Taiwan? Jika diambil dari senario politik semasa, penulis tidak yakin KERAjaan Dollah Badawi mampu mempertahankannya jika masih bergantung kepada Rais Yatim dan Ghani Patail untuk berhujah di ICJ.

Berita ini masih belum dilaporkan dimana-mana akhbar utama atau pun di Malaysiakini. Perkara ini tidak boleh disorok oleh KERAjaan dari pengetahuan rakyat kerana ia melibatkan kedaulatan negara. Mereka perlu menjelaskan kepada rakyat langkah-langkah diplomasi yang telah atau bakal diambil untuk menanganinya.

Datuk Seri Najib Tun Razak pula cuba mengugut Taiwan dengan menghebahkan aset-aset strategik yang dimiliki oleh KERAjaan seperti kapal perang, jet pejuang dan markas Tentera Laut Diraja Malaysia untuk melindungi pulau itu. Kenyataan ini dibuat ketika menghadiri pertandingan menembak di pulau tersebut baru-baru ini bersama IGP Musa Hasan dan PAT Dato Aziz.

Bersediakah kita untuk berperang dengan Taiwan atau itukah pilihan terbaik KERAjaan untuk mempertahankan Pulau Spratly?

Pendapat penulis, pilihan terbaik rakyat Malaysia untuk mempertahankan kedaulatan negara tercinta ini hanya dengan menukar pemimpin yang lebih diyakini rakyat dan dihormati di peringkat antarabangsa.

Monday, August 11, 2008

Dulu Hilang Batu, Kini Akan Hilang Pisang ?!

Di binanya Jeti dan sebuah setor simpanan. Diperluaskan kawasan rumah api. Dan katanya diceroboh tanah kebun rakyat Malaysia. Itulah scenario di Pulau Pisang. Rimas dan mencemaskan.

Geram dan menyampah! Bukan sahaja Perdana Menteri yang kerap tidur malah seluruh anggota kabinetnya serta wakil-wakil rakyatnya kelihatan seperti lembap, pasif, lambat dan tidak sensitif. Cuma seorang sahaja ahli parlimennya yang bertempik iaitu ahli Parlimen Pontian.

Yang lain semuanya hampas terutama Ketua Pemuda apatah lagi Naib Ketua Pemuda. Shahril dan Ghani berbalah fasal wilayah Iskandar. Mahyuddin yang semakin tak laku dalam UMNO, belum juga sedar-sedar, masih sibuk mencari ruang. Azlina lena dibuai mimpi. Khalid merepek dengan AUKU yang akhirnya nanti macam itu juga. UMNO dan kepimpinan terus lena. PULAU PISANG SEMAKIN DIDOMINASI SINGAPURA !

Kepimpinan UMNO memang gila kuasa demi kepentingan dan pengekalan kuasa peribadi. Semuanya beretorik, kerja tetap tak jalan. Bercakap banyak sampai berbuih air liur dan merah-merah bibir. Rais Yatim konon bijak dan handal berbahasa diplomasi. Diplomasi pasif ! Tak habis-habis hendak siasat. Sepatutnya apa yang berlaku di Pulau Pisang dialah antara yang mula-mula tahu . Singapura dah siap bina pagar baru rumah api yang lebih luas tetapi malangnya dia baru nak pergi siasat. Semuanya tahi hidung masin ! Inilah malang nasib Tanah Melayu. PULAU PISANG SEMAKIN DIDOMINASI SINGAPURA !

UMNO parti yang katanya mendominasi BN, tidak pernah pandai-pandai mengambil ikhtibar dan pengajaran dari sejarah lampau. Kedaulatan negara Malaysia sudah berkali-kali diinjak dan dihina oleh Singapura. Kepimpinan UMNO terus pasif dengan diplomasi bertaraf dunia katanya ! Kes Pulau Batu Putih sangat menghiris hati rakyat. Sudahlah Singapura dibenarkan UMNO mengambil Batu Putih, kini Singapura mahu mendominasi dan akhirnya mahu menguasai perairan sekitar Batu Putih. Belumpun selesai usaha jahat licik Singapura itu, mereka berusaha pula mendominasi Pulau Pisang dengan pembinaan jeti, stor simpanan yang entah apa-apa disimpan dalam tu dan memperluaskan lagi kawasan rumah api di Pulau tersebut. Apa yang kerajaan UMNO buat? UMNO tak kesah. Apa yang Menteri Pertahanan buat ? Pun tak kesah! Itu perkara kecil sahaja, hanya sebuah pulau…. !!! PULAU PISANG SEMAKIN DIDOMINASI SINGAPURA !

Jika begini sikap kepimpinan UMNO yang menerajui negara ini, batu apa lagi yang akan tinggal pada mereka nanti ?! Jika melihat sejarah di Bosnia, apakah ada jaminan batu yang ada pada mereka itu juga akan selamat ? UMNO dan kepimpinannya buat “dek je”! (ungkapan budak-budak remaja) ! Muka sadin! Tak rasa tercalar maruah langsung ! Rakyat Johor terus menjulang UMNO yang walaupun dah berusia tua masih tak pandai mengambil ikhtibar dan pengajaran dari sejarah ! PULAU PISANG SEMAKIN DIDOMINASI SINGAPURA !

Kepimpinan UMNO mendakwa, UMNOlah parti Melayu tetapi jahil mempertahankan hak kedaulatan bangsanya. Menjaga kedaulatan bangsa dan negaranya tidak boleh diharap, inikah muka yang boleh diharap untuk mempertahankan agama suci Islam ? Jauh panggang dari api. Tengok Iran, bagaimana negara Republik Islam itu mempertahankan kedaulatan bukan sahaja bangsa Iran malah lebih penting mempertahankan agama suci mereka dalam kes memajukan tenaga nuclear. Mereka sentiasa belajar dari sejarah, begitu tegar, konsisten, pro-aktif dan tegas. Mereka juga bijak berdiplomasi kerana diplomasi mereka bukan diplomasi pasif macam Rais Yatim dan seluruh kepimpinan Malaysia. Diplomasi Iran adalah diplomasi pro-aktif. Tetapi Para pemimpin UMNO yang mendominasi BN asyik sibuk membuat “projek mega” konspirasi, mengagih kuasa sesama pemimpin atasan macam parti hak sendiri, menabur wang kepada ahli-ahli bawahan, menabur fitnah sana sini dan berjuang apa sahaja cara, demi nafsu dan perut. Singapura terus membuat onar berusaha memperluaskan kawasan rumah api di Pulau Pisang. UMNO yang katanya pemangkin pemerintahan Melayu hari ini terus kuyu ! PULAU PISANG SEMAKIN DIDOMINASI SINGAPURA !

Mempertahankan kedaulatan negara adalah perintah agama. UMNO sentiasa mahu mengambil jalan mudah dan kadang-kadang seperti kehilangan idea. Pulau Batu Putih diserahkan kepada ICJ yang dikuasai Yahudi untuk membuat keputusan berhubung kedaulatan negara. Sedang kecerdikan Iran tidak pernah mahu menyerah nasib kedaulatan bangsa dan agamanya kepada PBB yang dikuasai Yahudi. Kita ? PULAU PISANG SEMAKIN DIDOMNASI SINGAPURA!

Dalam kes apa yang berlaku di Pulau Pisang seperti yang dilaungkan oleh ahli parlimen Pontian, di manakah tentera Malaysia. Bukan kita suruh berperang dan menyerang, tidak! Tapi sewajarnya kem tentera di buka di sana. Kenapa UMNO khusus Menteri Pertahanan yang terlalu sibuk itu, mesti takut dan gentar untuk menghantar tentera berkem di sana kerana itu tanah kita dan kedaulatan kita. Penulis sebenarnya tiada maklumat tetapi penulis membuat andaian tentera kita tiada di sana kerana sikap Singapura yang terus berusaha mendominasi Pulau Pisang. Jika tentera kita ada di sana, mungkinkah Singapura berani membuat onar. ? Tidak mungkin. Inilah sikap UMNO parti yang mendominasi pemerintahan negara hari ini. PULAU PISANG SEMAKIN DIDOMINASI SINGAPURA !

Sudah pasti jika sekiranya ada para pemimpin UMNO yang membaca penulisan ini, mungkin akan terus berkata mengikut kebiasaan ulasan mereka; “ sebenarnya dalam soal kedaulatan negara kita tidak pernah bertolak ansur dan sentiasa buat yang terbaik dan jawatankuasa teknikal telah pun kita hantar untuk mengkaji dan menyiasat perkara tu !! Kita berbincang dengan Singapura dan Singapura memberi jaminan bahawa bukan tujuan Singapura untuk mendominasi mana-mana hak Malaysia ! Rakyat tidak perlu bimbang”. Agaknya ungkapan-ungkapan diplomasi kuffar inilah yang telah berjaya memerangkap dan men-tidak-cerdikkan para pemimpin UMNO yang mendominasi pemerintahan negara pada hari ini. AKHIRNYA… PULAU PISANG SEMAKIN DIDOMINASI OLEH SINGAPURA.

Rakyat yang cintakan negara merasa cemas. Pemerintahan yang mendakwa cekap ini mesti membuat sesuatu dan mendedahkan kepada seluruh rakyat apa yang telah dilakukan dalam usaha mengurang dan akhirnya menamatkan dominasi Singapura ke atas Pulau Pisang ! Kaji asas keputusan ICJ dulu dan tidak ada konfedensial dalam soal pembangunan Pulau Pisang dan mana-mana jua pulau-pulau Malaysia.. Bentangkan kepada rakyat apa yang telah dan hendak dilakukan. Jangan menjadi bodoh dan diperbodohkan buat kali kedua wahai pemimpin UMNO yang mendominasi pemerintahan pada hari ini. Kami rakyat akan terus kutuk kamu dengan sekeras-keras kutukan dalam sejarah tamadun kami, jika perairan Pulau Batu Putih dan Middle Rock serta PULAU PISANG SEMAKIN DIDOMINASI OLEH SINGAPURA !!!

Insaflah wahai pemimpin UMNO yang mendominasi pemerintahan Malaysia hari ini; kerana kelemahan kamu, dulu kita hilang batu, apakah kini kita akan hilang pisang pula ? Maruah !!


Sumber : http://www.tranungkite.net/v7/

Monday, June 9, 2008

Jangan biarkan "Singapura dapat tanah"

Heran betol lagi aku...apsal Sultan Johor asyik bagi kat Singapura jerrr suruh tadbir kan...Sultan pun tak yakin rakyat nyerrr boleh mentadbir negeri...UMNO+JOHOR=Totok giler.
*******************************************
Copy from:http://n32.blogspot.com/

Kisah 60 orang delegasi diketuai ahli parlimen Pontian, Ahmad Maslan berkunjung ke Pulau Pisang yang terletak kira-kira 8km dari pantai Pontian mendapat liputan hampir semua akhbar tempatan hari ini. Ahmad Maslan mengumumkan bahawa kedua-dua kerajaan Persekutuan dan Negeri telah bersetuju membangunkan pulau tersebut bagi tujuan "eco-tourism".

Tidak seperti Pulau Batu Putih, pulau seluas 178.4 hektar ini terletak dalam wilayah Malaysia. Tetapi yang anehnya atas faktor sejarah di puncak pulau ini terbina sebuah rumah api, setinggi 53meter iaitu 1,000m atas paras laut. Rumah api ini sejak tahun 1900, melalui perjanjian antara Almarhum Sultan Ibrahim Johor dan penjajah British, diuruskan oleh Singapura kini melalui Lembaga Pelabuhan dan Maritim Singapura atau Maritime and Port Authority of Singapore dengan beberapa orang kakitangan tetap warga Singapura.

Baca lagi...

Tuesday, May 27, 2008

UMNO : Sang kera yang merosakkan bunga

Sampai bilaaaaaaaaaaaaaaaa kita harus menerima nya? Tensionnnnnnnnn!!!

**************************************************

Oleh ning

"Assalamualaikum...,

Bila kera mendapat bunga.peribahasa melayu yang bermaksud seorang yang tidak tahu menilai sesuatu yang dimilikinya walaupun yang dimiliki itu dengan cara yang sukar.kera yang mendapat bunga hanya akan terus merosak bunga tersebut tanpa mengetahui nilai bunga tersebut apatah lagi bunga yang dimiliki kera itu mungkin bernilai berjuta ringgit. Tetapi sang kera hanya tahu merosakkan bunga tersebut. Demikianlah perumpamaan yang boleh diberikan kepada UMNO hari ini.dulu ada orang kata UMNO seperti tikus membaiki labu. Dan kini ana kata UMNO umpama kera mendapat bunga.kenapa? Sebab UMNO tidak tahu nilai sebenar sebuah negara yang kaya raya.kerja UMNO hanyalah memusnahkan kekayaan negara sehingga banyak perkara tidak logik dan tidak sepatutnya berlaku, Berlaku.UMNO dengan bersusah payah memenangi PRU hanya untuk memusnahkan negara. Akibatnya satu demi satu musibah menimpa negara.tak ubah seperti kera mendapat bunga.

1) Negara dianugerahkan ALLAH dengan sumber minyak yang banyak,logiknya bila harga minyak dunia melambung negara mendapat faedah dan keuntungan yang melimpah ruah. Tetapi anehnya rakyat yang terpaksa tanggung kenaikan harga minyak dunia ini dan pemimpin UMNO menyatakan tidak mungkin kerajaan menanggung beban kenaikan tersebut. Justeru rakyat diminta berkorban demi kerajaan yang kononnya membela rakyat. Tetapi hakikatnya kerajaan hanyalah ibarat sang kera yang tidak tahu menilai betapa berharganya minyak anugarah ALLAH itu kepada negara dan rakyat.

2) Satu masa dulu negara dikejutkan dengan ketiadaan minyak sawit. Walhal negara adalah pengeluar terbesar dunia. Aneh tapi benar, rakyat sekali lagi terpaksa hidup dalam suasana panik kerana ketiadaan minyak masak yang bukan sahaja menjadi keperluan harian tetapi menjadi keperluan mencari makan bagi setengah rakyat. Penjual goreng pisang terpaksa menanggung kerugian, Begitu jugalah pengusaha kedai makan akibat ketiadaan minyak masak. Sekali lagi UMNO yang diberi tanggungjawab mentadbir negara tidak tahu menilai betapa pentingnya minyak masak kepada rakyat dan gagal memenafaatkan anugerah ALLAH yang melimpah ruah ini.

3) Hari ini rakyat sekali lagi dipanikkan dengan masalah beras. Banyak kawasan penanaman padi telah diabaikan. Malah bila ditanya kenapa kerajaan tidak merancang pengeluaran bahan makanan asasi rakyat ini agar mencukupi, menteri yang bertanggungjawab telah menyatakan kerajaan tidak menjangka masalah seperti sekarang akan berlaku. Dimana kualiti kerajaan yang menawarkan diri untuk menjaga rakyat? Jelas bunga yang diberi rakyat tidak dihargai malah dirosakkan oleh UMNO. Tambah pelik lagi petani petani tidak mendapat faedah dari kenaikan harga beras ini malah mereka juga terpaksa membeli beras pada harga pasaran yang jauh lebih mahal dari harga padi yang mereka usahakan. Lagi perkara pelik tapi benar.

4) Kini rakyat digemparkan dengan kehilangan Batu Putih.satu lagi pemberian ALLAH yang tidak dihargai dan dilepaskan begitu saja. Sebelum ini negara kehilangan singapura dan sekarang Batu Putih. UMNO jelas tidak berbuat apa apa bila singapura hilang dan sekarang UMNO meminta rakyat menerima kealpaan mereka kerana kehilangan Batu Putih. Bunga yang diberi gagal dimenafaatkan oleh sang kera kerana sang kera tidak tahu betapa tingginya nilai bunga tersebut.

Kepada rakyat khususnya rakyat JOHOR,sampai bila lagikah rakyat terus mahu melihat sang kera terus merosakkan bunga? Dan sampai bilakah rakyat mahu terus mengizinkan tikus membaiki labu?"

Sunday, May 25, 2008

Pulau Pisang akan jadi seperti Pulau Batu Puteh

Hamid Albar dan Gani 4tahil bole la resign...hampehhh......gantikan orang lain yg lebih patriotik...
*************************************************************************

PAS Johor bimbang, sebuah lagi pulau dalam wilayah perairan Johor, iaitu Pulau Pisang akan menerima nasib sama seperti Pulau Batu Puteh iaitu jatuh negara ke tangan asing sebagaimana Pulau Batu Puteh diputuskan sebagai milik Singapura oleh Mahkamah Keadilan Antarabangsa (ICJ) baru-baru ini.

Ketua Penerangan PAS Johor, Mazlan Aliman berkata, Pulau Pisang di Pontian itu mempunyai senario sama seperi Pulau Batu Puteh di mana Singapura mengawal rumah apinya semenjak ratusan tahun lalu sehingga ke hari ini.

Malah kata Mazlan, Singapura telah memperlihatkan wujudnya pentadbiran negara itu dengan membina beberapa kemudahan di situ.

Pulau Pisang juga mempunyai kedudukan strategik dan keluasanya jauh lebih besar daripada Pulau Batu Puteh.

Mazlan berkata, PAS tidak mempertikaikan keputusan ICJ dalam membuat keputusan berdasarkan asas-asas perundangan tetapi mempertikaian tingkah laku kerajaan Malaysia dalam menjaga kedaulatan wilayahnya.

Katanya, dalam isu Pulau Batu Puteh itu misalnya, Malaysia tidak memperlihatkan kesungguhan menjaga wilayahnya selama 150 tahun dengan tidak membantah tindakan Singapura membina kemudahan di situ sehingga Singapura berhujah bahawa Pulau Batu Puteh sebagai tidak bertuan. Malaysia katanya, hanya membantah selepas PAS dan NGO serta nelayan menghantar memorendom bantahan kepada kerajaan Singapura melalui wisma Putra sekitar tahun 1990 an, selepas marin negara itu didapati menghalau nelayan daripada menangkap ikan dan berlindung di pulau berkenaan.

Jelas beliau, ekaoran itu Dewan Pemuda PAS Pusat dan Johor berusaha untuk pergi ke pulau berkenaan dengan hasrat untuk memacakkan bendera Malaysia di situ sebagai tanda pulau itu adalah wilayah Malaysia tetapi hasrat PAS tidak kesampaian apabila dihalang oleh polis Malaysia.

Perdana Menteri ketika itu, Dr Mahathir Mohamad memberi alasan kononnya tindakan menghalang pemuda PAS pergi ke Pulau Batu Puteh dibuat atas semangat Asean.

Menurut Mazlan, PAS sangat bimbang selepas ini Singapura akan menggunakan kaedah sama dalam tuntutannya ke atas pulau Pisang dan jika ini berlaku, kemampuan Malaysia dalam mempertahankan Pulau Pisang sangatlah diragukan kerana kerajaan Malaysia sememangnya tidak pernah mengambil serius terhadap kedaulatan.

PAS Johor kata Mazlan, menuntut kerajaan menubuhkan suatu tribunal bagi menyiasat pasukan peguam Malaysia untuk mengenal pasti punca kekalahan memalukan dalam kes Batu Puteh, juga ingin mengetahui apakah pasukan peguam benar-benar serius atau sekadar melepaskan batuk di tangga sahaja dalam menyediakan penghujahan mereka.

PAS juga menuntut supaya Menteri Luar ketika itu, Dato� Syed Hamid Alba dan Peguam Negara, Tan Sri Abdul Ghani Patail mengambil tanggung jawab penuh di atas kekalahan Malaysia dalam isu Pulau Batu Puteh dengan melepaskan jawatan masing-masing.

"Syed Hamid dan Abdul Ghani Patail wajar mengambil tanggung jawab di atas kekalahan Malaysia dengan meletakkan jawatan masing-masing," ujarnya. Mazlan mencadangkan kerajaan telus dalam isu berkenaan dengan membenarkan dokumen penghakiman ICJ setebal 81 muka surat disebarkan kepada rakyat. "Kita ingin melihat apakah hujah Hakim ICJ ketika menolak penghujahan pasukan Malaysia dalam kes berkenaan," katanya.

Pulau Batu Putih : Peguam Cap Ayam.

Sial punya ghani 4tahil...FUCK YOU.
***********************************************************************


Mahkamah Keadilan Antarabangsa telah membuat keputusan . pulau Batu Putih ialah milik Singapura. Terumbu yang tak guna milik Malaysia. kenapa Pulau dapat kepada Singapura dan terumbu yang tak guna dapat kepada Malaysia? Sapa tau jawapannya?

Jawabnya senang saja sebab peguam yang dihantar Singapura adalah jaguh dunia manakala peguam yang dihantar Malaysia ialah jaguh kampung yang tak berguna juga. Maka kita hantar peguam yang tak berguna, maka kita dapatlah terumbu yang tak berguna. Singapura hantar peguam yang hebat, depa dapat Pulau Batu Putih yang banyak menfaat.

Itulah dia Peguam Negara Malaysia yang entah berapa kelasnya jika dibandingkan dengan Peguam Singapura yang ternyata lebih bijak, lebih berkarisma dan lebih bernilai daripada gani Patail yang semua orang meluat. Dulu madet suka pada dia sebab boleh dikulikan untuk buat aniaya kepada DSAi tapi sekarang madet pun benci kepada dia sebab sekarang dia jadi kuli Lah Bedui pulak. Itulah dia taraf AG kita yang hanya layak jadi kuli kepada pemerintah yang zalim.

Berbalik kita kepada kisah batu Putih. Batu Putih amat dekat dengan Johor jika dibandingkan dengan Singapura. Kalau secara logik akal sudah tentulah Pulau Batu Putih dapat kepada Malaysia sebab Johor Malaysia punya. Maka PBP adalah selogiknya hak Malaysia. Tetapi disebabkan dalam perbicaraan logik bukan persoalannya. Persoalannya ialah bagaimana peguam yang berhujah boleh mempengaruhi hakim . bagaimana peguam yang berhujah dapat membuktikan kebenaran berpihak kearahnya. Maka ternyata Gani Patail tidak kuat hujahnya berbanding peguam Singapura. Maka gani Patail dari negara yang besar seperti Malaysia kalah kepada peguam dari negara kecil seperti Singapura. Kalau Gani Patail ini jepun, rasa aku dah lama dia bunuh diri dengan harakiri. Mati secara terhormat lebih baik dari hidup jadi pengkhianat.

PBP amat strategik dan ini menjadikan wilayah Singapura lebih luas dan senanglah Singapura untuk membuat pengkalan tempat menyimpan senjata dan mudah pula untuk menyerang Malaysia. PBP umpama Israel bagi Amerika sebab depa boleh duduk di Israel dan merancangkan serangan kepada negara-negara Arab. Itulah hebatnya PBP yang telah dihilangkan dari Malysia oleh AG Gani Patail. Malang sungguh Malaysia mempunyai barisan peguam yang tak cerdik lantikan PM yang juga bahalol.

Berbalik kepada Gani Patail yang kononnya hebat di Mlaysia. Hebat di Malaysia kerana kita mempunyai mahkamah kangaroo ( ataupun mahkamah kera sebab di Malaysia tak dak Kangaroo) maka senanglah Patail menang. Keputusan telah pun dibuat sebelum masuk bicara lagi. Skrip perbicaraan telah pun disiapkan oleh Linggam & Co untuk dilakonkan oleh peguam-peguam dan hakim. Jadi buat macam mana pun sah Gani Patail boleh menang. Lihat saja kes perbicaraan DSAi, penuh dengan tipu belit, penuh dengan ugutan dan penuh dengan ketidakadilan, tetapi Gani Patail dan AG lama yang telah mampuih setelah koma 6 bulan pun boleh menang. Dalam mahkamah kera, sesiapa saja yang mewakili keturunan kera akan menang. Macam mana tak menang, hakim kera, peguam kera, tukang angkat tilam pun kera jugak.

Berbeza di arena antarabangsa yang mahkamah mereka memang layak dipanggil mahkamah. Depa tiada skrip untuk dihafal, depa tiada sesiapa untuk disebelahi dan depa penuh integriti. Jadi kita hantar Gani Patail yang selalu hapal skrip, bila tiada skrip Gani Patail jadi kaku maka hujahnya lesu dan penuh dengan penipu. Hakim ICJ tau Patail penipu sebab tunjukkan gambar yang dibesarkan. Idea penipu dalam negeri dibawah keluar negara. Hakim ICJ tak mudah ditipu , maka jadilah peguam Malaysia peguam merapu yang hakim ICJ tolak mentah-mentah. Lain kali kalau nak bicara luar negara hantar saja Karpal Singh yang ternyata hebat. Kalau PR memerintah, buang Patail yang tak berguna sekupang tu dan gantikan dengan Karpal Singh yang hebat.

Demikianlah serba sedikit tentang malangnya Malysia yang diperintah oleh sekumpulan manusia yang bodoh diketuai Dolah. "

Saturday, May 24, 2008

Pulau Batu Putih: Tahniah Rakyat Johor BN

Warga UMNO JOHOR poyooooooooooo...
--------------------------------------------------------------------------

Mahkamah ICJ baru sahaja menyerahkan Pulau Batu Putih kepada Singapura. Tahniah kepada Singapura. Dah itu keputusannya, terima ajelah. Mungkin selepas ini JOHOR pulak. Untuk permulaan kita bagi jer Pulau Batu Putih. Mungkin 5 tahun lagi penyerahan Wilayah Iskandar secara rasmi pula. Tahniah sekali lagi Singapura. Perancangan seterusnya untuk menyerahkan negeri JOHOR pulak. Bagaimana yer? Tunggu…. Tak susah, kita tengok dalam 15 -20 tahun lagi.

Kenyataan ini mungkin berlaku sekiranya rakyat Johor tidak melakukan apa-apa. Contohnya teruskan memberi mandat kepada UMNO dan BN. UMNO kan Pembela Melayu. Apa kita nak takut, selama ini Melayu kan kuat di JOHOR. Mana pernah UMNO tewas di JOHOR. Kubu kuat orang Melayu. Ape nak takut. Takyah risau laa. Walaupun rakyat JOHOR menumpang di bumi sendiri kita tetap akan pertahankan Melayu di Johor nie. Jangan bimbang. Tak Usah nak bimbang. Tak kan Melayu hilang di dunia. Melayu pantang di Cabar. Saya.. pantang di cabar. Mungkin masih ingat kot.. Tapi… Melayu Mudah Lupa.

Padan ngan muka Melayu Johor. Undilah UMNO lagi. Mana orang Melayu Johor nak lari nanti.. kita tengok selepas 20 tahun. Mungkin akan ada penghijrahan dari rakyat Johor ke negeri-negeri Melayu yang lain. Tahniah pada rakyat Johor yang prihatin dan sayangkan Malaysia. Cerdik tak boleh ditegur, Pandai tak boleh nak menumpang. Inilah Johor.

Nanti cuba ler muafakat dengan orang Yahudi yer. Kenal mengenal lah yer. Tak kenal Maka Tak Cinta. Betul tak. Orang Johor dah makin maju ler. Berjiran dengan Yahudi. Yahudi kan bangsa yang menguruskan dunia harini. Terrer ler rakyat Johor, ada kawan ngan Yahudi. Sikit hari lagi mesti kaya raya ler rakyatnye. Rumah BESAR, kereta BESAR, ape2 pun semuanya BESAR. Eee… seronoknya jadi rakyat Johor. Jeles betul laa camni.

Kesian ler pada kawan-kawan kita yang tak nak berkawan dengan Yahudi. Jangan di sembelih macam rakyat Palestin sudah la. Lawan tetap lawan kan. Kan Melayu suka cakap Berpantang Maut sebelum Ajal.

Sekali lagi.

Pulau Batu Putih : Melayu terlalu bangang.

Gila punya pemimpin melayu..win-win situation konon...we lost but singapore win la...coz dpt bilik tengah umah kita..bodo punya pemimpin umno..
---------------------------------------------------------------------------

Oleh : AdukaTaruna (24 May 2008 11.55am)

Dengan Nama ALLAH Yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang.


Bangsa melayu adalah bangsa yang bangang! Dijajah bertubi-tubi. Tidak bermaruah. Tidak mempunyai nabi-nabi. Tidak mempunyai tamadun. Tidak tercatit dalam mana-mana sejarah empayar dunia. Tidak seorang pun yang menemui cabang ilmu seperti Ibnu Sinar. Tulisan angka sendiri pun terlalu bangang untuk dicipta.

Setelah Melayu menyerahkan Singapura kepada orang lain, kini Pulau Batu Putih pula. Apa yang bangsa Melayu buat? Bodoh! Gen terbangang bernama Ghani Patail yang dihantar Melayu? Sultan melayu? Tidak bermaruah. Pelik. Sungguh aneh bagi genetic lain melihat ini.


Tidak perlu cakap pasal pemerintah Melayu UMNO. Lu tengok alternative harapan baru Malaysia, Barisan Rakyat. Sudah berapa jam keputusan ICJ keluar. Mana kenyataan rasmi DSAI? Mana kenyataan rasmi TGHH? Mana? Kalau dah gen Melayu…

Ini bukan soal duit. Ini bukan soal rasuah. Ini soal paling besar. Kedaulatan, maruah, keselamatan. Tahukah berapa jauh Pulau Batu Putih dari Malaysia berbanding Singapura? Ianya seumpama bilik tengah milik jiran, bahagian ruang tamu dan dapur milik kita. Untuk pergi ke ruang tamu terpaksa disoal siasat pemilik bilik tengah.

Apa tindakan Barisan Rakyat?

Adakah Barisan Rakyat tidak memandang berat perkara ini? Tidak sesuaikah sekiranya PAS merintis sentiment patriotic? Mengeluarkan arahan bendera-bendera PAS dikibarkan separuh tiang contohnya, bendera Kelantan, Perak, Kedah separuh tiang, MP PAS memakai sesuatu menunjukkan berkabung di dewan negara. Atau anda tidak kisah? Gen biarlah seperti Melayu?

Apa tindakan bloggers Melayu?

Wa cadangkan untuk beberapa hari, sekiranya kalian setuju, kalian tukar sementara latar berwarna hitam. Tanda berkabung. Kenapa wa fokuskan Melayu? Kerana sepatutnya kita yang lebih terluka dalam hal ini. Sekiranya bukan Melayu mendahuli kita akan hal ini, maka, kita sepatutnya menanam diri kita hidup-hidup. Malu.

Sekiranya anda tidak setuju.

Jangan bimbang. Demokrasi. Anda berhak terhadap cara anda. Wa hanya berhak meluahkan. Kita semua ada peluang untuk berkabung lagi ketika WPI nanti. Insyaallah.

Wallahualam.

Tuesday, December 4, 2007

Membina Pulau Layang Layang Malaysia.

Pulau ini dibina dengan menambak kawasan terumbu karang. Pasir disedut dari dalam lagun dan ditambun di atas terumbu yang terdedah sewaktu air surut.

Dua buah tongkang (barge) ditarik naik ke atas terumbu sewaktu air pasang paling tinggi (berpandukan masa dalam sebulan). Kemudian ditambat dengan sauh. Bila air surut kering, tongkang di pecahkan di bahagian bawah supaya air laut boleh masuk. dan pasir laut mula diisikan ke dalam tongkang menyebabkan ianya berat dan tetap kedudukan walaupun waktu air pasang.

Kemudian seawall dibina. pasir disedut dari lagun dan ditambak lagi sehingga pulau menjadi lebih besar. Kemudiannya bangunan didirikan dan pokok-pokok ditanam. Pokok-pokok yang ditanam adalah dari jenis yang tahan kepada keadaan persekitaran laut dan angin masin (salt spray).



Gambar ini adalah diambil oleh Allahyarham Baed, Cawangan Komunikasi, Jabatan Perikanan Malaysia (circa 1982). Gambar ini adalah diambil dari pesawat helikopter Tentera Udara Malaysia. Kelihatan Stesen LIMA TLDM dan sebuah jeti yang telah dibina.

Well primed to repel attacks.

By ZULKIFLI ABD RAHMAN

A group of Malaysian journalists had the rare opportunity of visiting the Royal Malaysian Navy base at Layang-Layang Island and sharing the experience of military personnel stationed there.

LAYANG-LAYANG Island is situated in a remote area in the South China Sea, 343km northwest of Kota Kinabalu.

Known as Swallow Reef, it is an atoll about 0.1km in size and is located in the vicinity of the disputed Spratly Islands.

(Comprising more than 100 small islands or reefs, the Spratly Islands are claimed in whole or in part, and occupied by China, Malaysia, the Philippines, Taiwan and Vietnam.)



Staying tough: Two Royal Malaysian Navy Paskal special forces members taking part in an exercise in Pulau Layang-Layang.



Layang-Layang is dubbed the “Jewel of the Borneo Banks” as it is known worldwide for being a top dive site.

It was declared by former Prime Minister Tun Dr Mahathir Mohamad as within Malaysia's EEZ and the Royal Malaysian Navy (RMN) began operating a naval base on the island in 1983. The base began with the construction of a small living-cum-operations quarters. More buildings were added later, including two air-conditioned accommodation blocks, an aircraft landing strip, which can be used by Hercules C-130 and CN235 aircraft, two hangars, a radar station, an air traffic control tower, watchtowers and a jetty.

There is also a Fisheries Department research base here.

Patrols by navy soldiers in CB90H attack vessels and larger, faster patrol boats are carried out around the island.

The RMN’s elite Paskal or naval Special Forces commandos also help to maintain security.



Well prepared: Malaysian military personnel on Pulau Ubi, one of five remote islands in vicinity of Spratly Islands off Sabah.


It is also the location of the Layang-Layang Island Resort, which was constructed in 1989 and is the only place here that provides accommodation for divers who come from all over the world to marvel at the corals and vast marine life in the crystal-clear waters surrounding the island.

A large windmill, the only one of its kind in Malaysia, was erected on the naval base. Maintained by Tenaga Nasional, it harnesses power from wind speeds of up to 50 knots per hour to provide additional electricity supply to the base, which is powered by diesel generators.

Several anti-ship and anti-aircraft guns are placed on several areas on the island and the RMAF personnel operate a Starburst air defence system to prevent low-level air attacks here.

The soldiers said the Starburst missile can target and hit hostile aircraft from 5km away.

The presence of soldiers from the Special Forces on the island demonstrates the sensitivity of the situation involving the overlapping claims on the many islands within the Spratlys archipelago.

Military personnel are needed to maintain Malaysia’s control of the island and also to protect the rich marine life surrounding it, said commanding officer of the Layang-Layang RMN Leftenan Khairul Nislah Ahmad.

His men maintain security on Layang-Layang and four other nearby islets or reefs - Ubi, Mantanani, Siput and Peninjau.

These islands are identified in international maps as Swallow Island (Layang-Layang), Ardasier Reef (Ubi), Mariveles Reef (Mantanani), Erica Reef (Siput) and Investigator Reef (Peninjau).

Lt Khairul said the islands were important strategic assets for the country and were believed to contain natural resources such as oil, phosphorous and natural gas. Meanwhile, the reefs are teeming with a beautiful and diverse marine life such as corals and many types of fish, which are great tourist attractions.

The commercial income from tuna fishing activities in Layang-Layang alone could amount to RM70mil annually, he revealed.



Pulau Layang-Layang



“We are also entrusted with the task of ensuring that only fishing vessels with permits are allowed into the area and fishermen they cannot catch legally-protected fish,” he said.

“Our troops also make patrols to prevent intrusions by foreign fishing boats or other types of vessels into our waters.

“Incidents such as illegal fishing, bombing of fish and theft of corals have been eliminated due to our presence in the area.”

Men stationed at the five islets monitor the movement of foreign ships and aircraft in the area, including military submarines that constantly ply the South China Sea, he added.

Lt Khairul said the armed forces personnel were normally stationed on the island on a three-month rotation.

The soldiers are transported to their respective stations on the five islets by navy boats from Layang-Layang once they arrive from Kota Kinabalu, where the Naval Area Base II (Mawila II) is located.

In the midst of a dinner held to welcome the journalists at the base, also known as Stesen Lima, heavily-armed Paskal commandos suddenly burst in, shouting that attackers had reached the base.

There were deafening rattles from automatic rifles and shots from anti-aircraft guns while thick smoke rose into the night sky.

In the confusion, two members of the media including my colleague, photographer Ong Soon Hin, were whisked away.

When the hullabaloo had settled, we were told that it was only a drama to demonstrate to us what would happen if the base was attacked.

RMN officer Lt Madya Zulhilmi Sahbudin, 25, who was stationed at Mantanani five months ago, said his duty, like that of his colleagues in Layang-Layang, was to ensure that the island was protected from intruders.

“For me there’s no other place like it in Malaysia. The waters around this island are blue and crystal-clear.

“It’s beautiful and many types of fish and corals can be seen,” he said.

Laskar Kanan Abdul Hail Hussin, 31, from Kota Kinabalu, agreed, saying that many Malaysians would jump at the opportunity to be stationed on a peaceful and remote island in the vast South China Sea.

But he confessed that boredom could creep in sometimes.

“I was happy to be selected to come here. The sight of the clear seawater and white beaches cannot be easily forgotten,” he said.

Due to security concerns, none of the soldiers on Layang-Layang would talk about movements of military ships in the area.

But every incident of close encounters with foreign ships and aircraft are logged, and I found out that soldiers sometimes saw military aircraft, ships, and submarines in the seas around the five islets.

However, no incident or confrontation has occurred.